Kingdom of Heaven – The virtue of King Baldwin IV


King Baldwin IV of Jerusalem

King Baldwin IV of Jerusalem

Come forward. I am glad to meet Godfrey’s son. He was one of my greatest teachers.

He was there when, playing with the other boys, my arm was cut.

And it was he, not my father’s physicians, who noticed that I felt no pain.

He wept when he gave my father the news, that I am a leper.

Mendekatlah, Aku senang bertemu denganmu putra Godfrey. Ayahmu adalah salah satu guru utamaku.

Adalah dia, yang saat aku kecil, menyaksikan lenganku yang terluka, saat aku bermain dengan anak-anak yang lain

Dan adalah dia, bukan dokter ayahku, yang menyadari, bahwa ternyata aku tidak bisa merasakan sakit.

Dia menangis saat memberitahu ayahku, bahwa aku adalah penderita Lepra.

The Saracens say that this disease is God’s vengeance against the vanity of our kingdom.

As wretched as I am, these Arabs believe that the chastisement that awaits me in hell is far more severe and lasting.

If that’s true, I call it unfair.

Kaum Saracen bilang penyakit adalah hukuman dari Tuhan atas kesombongan Kerajaan kita.

Lebih parah lagi, mereka percaya bahwa hukuman yang menungguku di alam baka nanti akan lebih kejam dan tak berkesudahan.

Jika apa yang mereka katakan itu benar, menurutku itu tidak adil.

Come. Sit. Do you play?

The whole world is in chess. Any move can be the death of you.

Do anything except remain where you started and you can’t be sure of your end.

Mari, duduklah. Apa kau suka catur?

Dunia ini seperti permainan catur. Setiap langkah bisa saja adalah langkah terakhirmu.

Melangkahlah kemanapun kau suka, namun jangan pernah berdiam ditempat, kau tidak akan pernah tahu dimana akhirmu.

When I was sixteen I won a great victory.

I felt in that moment that I should live to be one hundred, now I know I shall not see thirty.

Saat umurku 16 tahun, aku memenangkan pertempuran besar.

Saat itu aku bisa hidup sampai seratus tahun lagi, tapi sekarang aku tahu bahwa aku tidak mungkin mencapai umur 30.

None of us know our end really, or what hand will guide us there.

A King may move a man, a father may claim a son. That man can also move himself. And only then does that man truly begin his own game.

Remember that howsoever you are played, or by whom, your soul is in your keeping alone.

Even though those who presume to play you be kings or men of power.

When you stand before God, you cannot say “but I was told by others to do thus” or that “virtue was not convenient at the time.”

This will not suffice. Remember that.

Tak ada seorang pun yang bisa tahu kemana akhir hidup kita, atau apa yang membawa kita kesana.

Raja bisa menggerakkan pasukan, Ayah bisa mengklaim anaknya. Orang itu pun bisa menggerakkan dirinya sendiri. Namun setelah itu langkah selanjutnya adalah benar2 tanggung jawab orang itu sendiri.

Ingatlah bahwa entah bagaimana cara kau bermain, atau siapa yang membuatmu melakukan itu, Jiwamu adalah benar-benar tanggung jawabmu seorang,

Bahkan walaupun yang menyuruhmu adalah seorang raja atau orang berkuasa.

Ketika kau menghadap Tuhan, kau tidak bisa mengatakan “Tapi, merekalah yang menyuruhku untuk melakukan itu” atau “Memang itulah yg seharusnya kulakukan, tapi aku tidak bisa melakukannya pada saat itu.”

Itu bukan alasan yang pantas. Camkanlah itu.

Baca juga :

  • Siapakah King Baldwin IV

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: